Pada minggu Reminiscere hari ini, kita diingatkan
bahwa TUHAN KITA ADALAH PENOLONG YANG
SETIA (DEBATA DO PANGURUPI NA SATIA), REMINISCERE
mengandung arti "INGATLAH SEGALA
RAHMAT MU DAN KASIH-SETIA MU YA TUHAN” / “SAI INGOT MA ALE JAHOWA ANGKA
DENGGAN BASAM DOHOT ASI NI ROHAM” à (Mazmur/Psalmen 25:6)
Mazmur 25 adalah Doa mohon ampun dan
perlindungan dari Daud.
Daud menyadari dosa besar yang
dilakukannya yaitu mengambil Batsyeba istri Uria menjadi isterinya (2 Samuel 11:27) sehingga dia memohon
ampun kepada Tuhan. Meskipun dia seorang raja, dia merasa keadaannya
seperti seorang yang sebatang kara dan tertindas, hatinya sesak dan menghadapi
kesulitan, sengsara dan mengalami kesukaran hidup sehingga dia mohon
perlindungan kepada Tuhan. (Mazmur
25:16-18).
Tuhan yang dia kenal dan yang dia sembah
adalah Tuhan yang menaburkan Berkat yang melimpah dan Setia. Tuhan yang
menyayangi umat-Nya melebihi kasih sayang ibu terhadap anak kandungnya (Yesaya 49:15)
Khotbah minggu ini diambil dari Mazmur
121:1-8 Perikop "Tuhan Penjaga Israel"
1) Nyanyian
ziarah.
Aku melayangkan mataku ke
gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
(2) Pertolonganku
ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
(3) Ia
takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.
(4) Sesungguhnya
tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.
(5) Tuhanlah
Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.
(6) Matahari
tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.
(7) TUHAN
akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.
(8) TUHAN
akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.
Struktur
:
Ayat 1-2 : Penegasan bahwa pertolongan
hanya dari Tuhan.
Ayat 3-4 : Pujian kepada Tuhan yg tidak
pernah tidur.
Ayat 5-6 : Pujian kepada Tuhan yg selalu
menjaga umat-Nya.
Ayat 7-8 : Penegasan bahwa Tuhan akan
melindungi umat-Nya
selama perjalanan mereka.
Mazmur 121 ini adalah bagian dari 15
Mazmur Nyanyian Ziarah dalam perjalanan Ibadah bangsa Israel menuju Bait Allah
di Yerusalem. (Kitab mazmur 120-134 disebut sebagai Mazmur nyanyian ziarah).
Ziarah adalah
kata serapan bahasa arab yang berasal dari kata kerja "berkunjung",
namun dalam pengertian bahasa indonesia "ziarah" memiliki bobot makna
sebagai: kunjungan yang dianggap keramat dan mulia.
Menurut bahasa ibrani “khag” = "ziarah" yang
artinya "naik". (Bandingkan dengan umat muslim ziarah ke Mekah [“Aliyah”] à Naik Haji).
Dikatakan "naik" karena letak
geografis tempat keramat atau mulia biasanya di gunung atau di bukit,
sebagaimana halnya dengan Yerusalem yang disebut bukit Sion (800 m diatas
permukaan laut) . Pemuja berhala pun meyakini bahwa Dewa mereka berdiam di
bukit atau di gunung (kekuatan duniawi).
Selain melakukan ziarah ke Bait
Allah/Bukit Sion di Yerusalem, umat israel dalam melakukan sembahyang harus
berkiblat (menghadap) ke bukit Sion mengikuti tradisi Daud dan Salomo (Mazmur
5:8; 138:2). Ziarah mempunyai akar didalam Perjanjian lama, pada waktu Abraham
ziarah ke gunung Moria (Kejadian 22).
Bangsa Israel setidak-tidaknya harus pergi
ke Yerusalem à Tiga Kali dalam setahun untuk berhari
raya (KHAG) yaitu : hari roti tidak
beragi, hari raya tujuh minggu
dan hari raya pondok daun (Ulangan
16:16).
- Hari
Raya PESAKH yaitu ziarah memperingati keluarnya (eksodus) bangsa Israel
dari perbudakan di Mesir yang di laksanakan pada hari ke-14 bulan
Nisan kalender Yahudi yang padanannya pada kalender masehi antara
bulan Maret- April.
- Hari
raya SHAVUOT yaitu Ziarah memperingati hari diberikannya Hukum Taurat
kepada Musa oleh Allah pada hari ke-6 bulan Sivan (kalender
Agama Yahudi) yang padanannya pada kalender masehi antara akhir bulan Mei s/d
awal bulan Juni.
- Hari
Raya SUKHOT atau TABERNAKEL yang disebut juga sebagai hari raya pondok daun
yaitu ziarah pengucapan syukur atas hasil panen yang dilaksanakan pada tanggal 14-15
antara bulan september-oktober.
Catatan
rentang ayat
Keyakinan
di dalam Allah (121:1-8) Mazmur
ini mengajar kita,
I.
Untuk menyandarkan diri kepada Allah sebagai Allah yang berkuasa dan
mahamencukupi bagi kita. Daud melakukan hal ini dan menerima manfaatnya.
1. Janganlah
kita mengandalkan makhluk ciptaan, manusia, cara, sarana, dan perkara-perkara
yang kurang penting, atau hal-hal kedagingan: “Apakah aku akan melayangkan
mataku ke bukit-bukit?” – demikianlah yang dibaca beberapa orang. “Apakah
pertolonganku datang dari sana? Apakah aku akan mengandalkan diri kepada kuasa
di bumi, kekuatan bukit-bukit, kepada raja-raja dan orang-orang besar, yang
seperti bukit-bukit, memenuhi bumi dan mengangkat kepala ke langit?
Tidak. Sesungguhnya, bukit-bukit pengorbanan adalah tipu daya (Yer. 3:23). Aku
tidak pernah berharap bahwa pertolonganku datang dari semua itu. Keyakinanku
hanyalah di dalam Allah semata.” Kita harus melayangkan mata jauh di
atas bukit-bukit (begitulah yang dibaca beberapa orang). Kita harus
memandang melampaui segala sarana dan mengarahkan mata kepada Allah, yang
menciptakan semua sarana itu bagi kita.
2. Kita
harus melihat bahwa semua pertolongan bagi kita tersedia di dalam Allah, di
dalam kuasa dan kebaikan-Nya, di dalam pemeliharaan dan anugerah-Nya. Karena
itu dari Dialah kita harus mengharapkan pertolongan itu datang: “Pertolonganku
ialah dari TUHAN. Pertolongan yang kuharapkan itulah yang dikirimkan-Nya,
dan dari Dia pulalah aku mengharapkannya, dengan cara dan dalam waktu-Nya
sendiri. Jika Ia tidak menolong, tidak ada yang bisa menolongku. Jika Ia
melakukannya, tidak ada makhluk yang dapat menghalangi atau mencegahnya.”
3. Kita
harus mencari pertolongan dari Allah melalui iman atas janji-janji-Nya dan
dengan rasa hormat seperti seharusnya terhadap semua ketetapan-Nya: “Aku
melayangkan mataku ke gunung-gunung” (mungkin yang dimaksudkan Daud adalah
perbukitan tempat Bait Suci dibangun, Gunung Moria, atau bukit Sion yang suci,
tempat tabut perjanjian, ruang belakang Bait Suci, dan mezbah berada). “Aku
akan mengamati hadirat Allah di tengah jemaat-Nya, bersama umat-Nya
(hadirat-Nya seperti yang dijanjikan-Nya) dan bukan hanya kepada hadirat-Nya
secara umum.” Ketika berada di kejauhan, ia memandang ke arah tempat yang
mahakudus (28:2; 42:7). Dari
sanalah datang pertolonganku, dari firman dan doa, dari tempat
rahasia Kemah Suci-Nya. Pertolonganku ialah dari TUHAN (demikianlah
yang dikatakan dalam ay. 2), dari hadapan TUHAN,
atau dari pandangan dan hadapan TUHAN. “Hal ini (kata Dr. Hammond)
dapat mengacu kepada Kristus yang menjelma, yang dengan kemanusiaan dan keilahian-Nya
yang tak terpisahkan, Allah selalu bersama dengan Dia. Melalui Dia, bersama
kita dan bagi kita, Ia duduk di sebelah kanan Allah dan senantiasa menaikkan
syafaat.” Kristus disebut juga malaikat hadirat-Nya, yang
menyelamatkan umat-Nya (Yes. 63:9).
4. Kita
harus meningkatkan keyakinan kita pada Allah dengan kenyataan bahwa Ia menjadikan
langit dan bumi, dan Dia yang mampu melakukan ini mampu juga melakukan apa
pun. Ia menciptakan dunia dari ketiadaan. Ia melakukannya sendiri dengan
mengucapkan satu perkataan, dalam waktu yang singkat, dan semuanya itu
baik, sangat sempurna dan indah. Oleh sebab itu, sebesar apa pun kesukaran
dan kesusahan kita, Dia memiliki kuasa yang cukup untuk menolong dan melepaskan
kita. Dia yang menjadikan langit dan bumi itu adalah Tuhan yang berkuasa atas
bala tentara langit dan bumi. Ia dapat menggunakan mereka sesuai kehendak-Nya
untuk menolong umat-Nya, dan menahan mereka sesuai kehendak-Nya supaya tidak
menyakiti umat-Nya.
II.
Untuk menghibur diri di dalam Allah ketika kesukaran dan bahaya teramat besar.
Di sini dijanjikan bahwa jika kita mempercayakan diri kepada Allah dan setia
dalam kewajiban kita, kita akan aman dalam perlindungan-Nya, sehingga tidak ada
celaka berat ataupun sedang dan kemalangan yang akan menimpa kita, selain apa
yang dipandang Allah baik untuk kita dan bermanfaat bagi kita.
1. Allah
sendiri telah memutuskan untuk menjadi pelindung kita: TUHANlah
Penjagamu (ay. 5). Tugas apa pun yang diberikan-Nya kepada
para malaikat-Nya untuk memelihara umat-Nya, tidak dibebaskan-Nya dari diri
sendiri, sehingga apakah orang yang dikasihi-Nya mempunyai seorang malaikat
sebagai penjaganya atau tidak, kita boleh yakin bahwa ia memiliki Allah sendiri
sebagai penjaganya. Hikmat yang tidak terhinggalah yang merencanakan, dan kuasa
tidak terhinggalah yang mengerjakan keselamatan orang-orang yang telah
menempatkan diri di bawah perlindungan Allah. Orang-orang yang memiliki Tuhan sebagai Penjaganya akan
dipenuhi keperluan mereka. Jika oleh sebab kesusahan, mereka seperti dijadikan
tawanan-Nya sekalipun, Dia masih tetap menjadi Penjaga mereka.
2. Sang
Pelindung seluruh jemaat Tuhan yang sama juga terlibat dalam pemeliharaan
setiap orang percaya, dengan hikmat, kuasa, dan janji-janji yang sama. Penjaga
Israel (ay. 4) adalah Penjagamu (ay. 5). Gembala kawanan domba adalah juga
gembala bagi setiap domba, dan ia akan menjaga supaya tidak seekor pun binasa,
bahkan yang kecil sekalipun.
3. Dia
adalah Penjaga yang waspada dan tidak pernah tidur: “Penjaga Israel,
yang menjagamu, O Israel, tidak terlelap dan tidak tertidur. Dia
tidak sekalipun dan tidak akan pernah tertidur, sebab Dia tidak pernah letih.
Dia bukan saja tidak pernah tidur, tetapi juga tidak pernah mengantuk. Dia
tidak memiliki kecenderungan sedikit pun untuk tidur.”
4. Dia
bukan saja melindungi mereka yang dijaga-Nya, tetapi juga menyegarkan mereka:
Dia adalah naungan mereka. Pembandingan ini mengandung sikap
merendah yang sangat besar. Keberadaan kekal yang tidak terbatas itu demikian
adanya agar Ia dapat menyampaikan penghiburan yang dapat dirasakan kepada
umat-Nya, termasuk janji-janji untuk menjadi umbra – bayang-bayang mereka,
supaya Ia berada tetap dekat dengan mereka, sama seperti bayang-bayang selalu
dekat dengan tubuh. Juga, untuk menaungi mereka dari panas yang terik,
bagaikan naungan batu yang besar, di tanah yang tandus (Yes. 32:2). Di
bawah naungan inilah mereka bisa duduk dengan nyaman dan aman (Kid. 2:3).
5. Dia
selalu berada dekat dengan umat-Nya supaya bisa melindungi serta menyegarkan
mereka, dan tidak pernah menjauh dari mereka. Dia adalah Penjaga dan naungan
di sebelah tangan kanan mereka, sehingga dengan demikian Ia tidak
pernah terlampau jauh dan sulit ditemukan. Tangan kanan adalah tangan untuk bekerja.
Mereka cukup berpaling ke kanan sesuai kewajiban, dan mereka akan mendapati
Allah siap menolong dan memberi mereka keberhasilan ( 16:8).
6. Dia
bukan saja berdiri di sebelah kanan mereka, tetapi langkah kaki
orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya juga (1 Sam. 2:9). Dia
selalu mengamati gerak gerik mereka: Ia takkan membiarkan kakimu goyah.
Allah akan menjaga supaya umat-Nya tidak akan dicobai melebihi kemampuan
mereka, menjaga supaya mereka tidak jatuh dalam dosa, meskipun mereka nyaris
melakukannya ( 73:2, 23). Mereka
tidak akan jatuh dalam masalah, meskipun banyak yang berusaha keras menjatuhkan
mereka melalui penipuan atau menggulingkan mereka dengan paksa. Dia akan
menjaga supaya mereka tidak takut, sama seperti saat kita terpeleset atau
tersandung dan nyaris jatuh.
7. Dia
akan melindungi mereka dari semua pengaruh jahat benda-benda langit (ay. 6): Matahari tidak menyakiti engkau dengan
panasnya yang terik pada waktu siang, atau bulan dengan hawa
dingin dan kelembapannya pada waktu malam. Matahari dan bulan
merupakan berkat yang besar bagi umat manusia, namun (betapa menyedihkan
perubahan yang disebabkan oleh dosa terhadap penciptaan) bahkan matahari dan
bulan pun, yang meskipun disembah oleh sebagian besar umat manusia, sering kali
merupakan sarana yang melukai dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia.
Melalui hal-hal ini Allah sering kali memukul kita. Namun, perkenan-Nya akan
menengahi sehingga hal ini tidak akan merugikan umat-Nya. Dia akan menjaga
mereka siang malam (Yes. 27:3), seperti
Ia menjaga umat Israel di padang gurun dengan tiang awan pada siang
hari, yang menaungi mereka dari panasnya matahari, dan pada waktu
malam dalam tiang api, yang boleh jadi menebarkan kehangatan ke atas
seluruh perkemahan, supaya mereka tidak akan terganggu oleh dingin dan
lembabnya malam yang pernah dikeluhkan Yakub, bapa leluhur mereka (Kej. 31:40), bahwa
ia dimakan panas pada waktu siang dan kedinginan waktu malam. Hal
ini juga bisa diartikan secara kiasan: “Engkau tidak akan terluka, baik oleh
serangan terbuka musuh-musuhmu yang tampak jelas seperti berkas sinar matahari
yang terik, ataupun oleh upaya curang mereka yang tersembunyi yang serupa
dengan sindiran tidak kentara bagaikan dinginnya malam.”
8. Perlindungan-Nya
akan membuat mereka aman dalam segala hal: “TUHAN akan menjaga engkau terhadap
segala kecelakaan, yakni celaka akibat dosa dan kesukaran. Ia akan mencegah
kejahatan yang engkau takuti dan akan menguduskan, menyingkirkan, atau
meringankan celaka yang kau rasakan. Ia akan menjaga engkau dari melakukan
kejahatan (2 Kor. 13:7), dan
menjauhkanmu sedemikian rupa dari celaka yang membuatmu menderita, hingga
kemalangan apa pun yang terjadi atasmu tidak akan terdapat celaka di dalamnya.
Bahkan celaka yang mematikan pun tidak akan terasa sakit.”
9. Kehidupan
rohanilah yang terutama hendak dilindungi Allah: Ia akan menjaga
nyawamu atau jiwamu. Semua jiwa adalah milik-Nya, sedangkan jiwa
adalah manusia itu sendiri. Oleh sebab itu Ia akan menjaganya dengan perhatian
khusus, supaya mereka tidak dikotori oleh dosa dan terganggu oleh kemalangan.
Ia akan menjaga jiwa kita supaya kita tetap memilikinya. Ia akan menjaga supaya
mereka tidak binasa selamanya.
10. Ia
akan menjaga kita di dalam semua jalan kita: “Ia akan menjaga keluar
masukmu. Engkau akan berada di bawah perlindungan-Nya dalam semua
perjalananmu, baik keluar maupun kembali ke rumah, seperti Ia telah memelihara
orang Israel di padang belantara, baik ketika mereka berpindah tempat atau
beristirahat. Ia akan membuatmu sejahtera dalam semua urusanmu, baik di dalam
maupun di luar rumah, di awal maupun akhirnya. Ia akan memeliharamu baik dalam
kehidupan maupun dalam kematian, perjalanan keluarmu sementara engkau hidup dan
perjalanan masukmu saat engkau mati, pergi keluar di waktu pagi sepanjang umur
muda hidupmu untuk bekerja dan pulang ke rumah untuk beristirahat ketika usia
senja memanggilmu masuk” ( 104:23).
11. Ia
akan terus menjaga kita dari sekarang sampai selama-lamanya. Ini
merupakan perlindungan seumur hidup, yang tidak pernah berhenti. “Ia akan
memimpinmu sampai kepada mati, dan akan menyembunyikanmu di dalam
kubur dan di sorga. Ia akan menjaga engkau sehingga masuk ke dalam
Kerajaan-Nya di sorga.” Allah akan senantiasa melindungi jemaat dan
orang-orang yang dikasihi-Nya, bahkan sampai kepada akhir zaman.
Roh, yang adalah penjaga dan penghibur mereka, akan menyertai mereka sampai
selamanya.
Bagaimana
kita memahami khotbah ini dari sudut pandang iman kristiani ?
Bahwa Allah yang dikenal dan disembah
Daud, Salomo dan umat Israel jaman dulu adalah Allah Trinitas yang kita kenal,
kita Sembah dan kita Puji sebagai Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus (Debata Sitolu
Sada, i ma Debata Ama, Anak dohot Tondi Porbadia).
Bangsa Israel secara jasmani yang dalam PL
disebut sebagai Umat Allah (Bangso ni Debata), dalam PB disebut sebagai Israel
secara rohani yaitu umat yang lahir kembali yang dilahirkan dari Air dan
Roh (Yohanes 3:6).
Dilahirkan dari Air (babtisan kudus yang
dilakukan oleh Pendeta dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus) adalah sebagai tanda/materai telah
lahir kembali.
Babtisan Air melambangkan pengampunan dosa
dan melambangkan kematian bersama Yesus. Seseorang yang telah dibabtis dalam
nama Yesus, dia telah dibabtis dalam kematian-Nya, dikuburkan bersama -Nya dan
dibangkitkan bersama-Nya oleh kemuliaan Bapa sehingga memperoleh hidup yang
baru (Roma 6:3-4).
Dilahirkan dari Roh yaitu babtisan oleh
Allah sendiri yang dilambangkan dengan Api bagi seseorang yang benar-benar
telah bertobat dan melaksanakan kehendak Allah yaitu:
a. Seseorang
yang dengan segenap hati dan jiwanya mengaku percaya bahwa Yesus adalah
Tuhan (Yoh 13:13)
b. Bahwa
Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup (Mat 16:16); bahwa hanya Yesus satu-satunya
yang mampu dan berkuasa menyelamatkan umat manusia (Kisah Para Rasul 4:12, Yoh
14:6).
c. Seseorang
yang dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budinya mengasihi Allah
(Markus 12:30).
d. Mengasihi
sesama manusia seperti dirinya sendiri (Mat 22:39).
e. Soli
Deo Gloria yaitu Beribadah, memuji dan memuliakan nama Tuhan (Roma 2:36, Mazmur
115, Titus 2:13).
Kalau umat Israel tiga kali dalam setahun
berziarah dan sembahyang/berdoa setiap hari menghadap (kiblat) ke bukit Sion di
Yerusalem, maka kita umat/jemaat yang percaya kepada Kristus tidak perlu
berziarah ke Yerusalem dan tidak perlu berdoa menghadap kearah tertentu karena
Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dan Tuhan Yesus Kristus sendirilah
kiblat sejati (Yoh 4:23-24). Mata tertuju
kepada Yesus (Ibrani 12:2).
Ziarah ke Bait Allah di Yerusalem
tergolong sulit karena jalan mendaki (800 meter diatas permukaan laut) dan
berbatu-batu serta harus membawa kurban persembahan. Ini merupakan gambaran
perjalanan hidup manusia bahwa mengikut Yesus tidaklah mudah karena harus
"menyangkal diri dan memikul salib" (Matius 16:24, Markus 8:34, Lukas
9:23) akan tetapi jangan bimbang dan ragu karena Tuhan Yesus Kristus adalah ALLAH PENCIPTA (CREATOR DEI), ALLAH PEMELIHARA (CONSERVATIO DEI) dan ALLAH PENJAGA (PRESERVATIO DEI) umat
manusia.
St.
MJP
12 Maret 2017,
Disadur dari berbagai sumber