Rabu, 15 Maret 2017

Mengenal Lebih Jauh Pu Raja Siamporik


Pu Raja Si Amporik adalah putera ke-3 dari 4 bersaudara (Pu Raja Pangatur, Pu Raja Soulangon, Pu Raja Siamporik dan Pu Raja Pambarobo) putera dari Pu Raja Dogor, cucu dari Pu Raja Situngo, cicit dari Toga Raja Panjaitan.
Sebelum kita lebih jauh dengan PU RAJA SIAMPORIk, terlebih dahulu kita singgung sedikit mengenai gelar atau panggilan kehormatan bagi leluhur orang batak. Sebutan Na matunggane diberikan kepada sesorang laki-laki orang batak yang telah berkeluarga. Gelar Raja melekat dan diberikan kepada natua-tua orang batak yang telah menerima/memberi Ulos Passamot. Gelar Ompu melekat pada natua-tua yang telah memiliki cucu. Gelar PU melekat pada nama panggilan yang diberikan kepada leluhur yang telah memiliki keturunan lengkap (Maranak-marboru, marpahompu sian anak marpahompu sian boru, marnini-marnono, marondok-ondok). 
Gelar TOGA  diberikan kepada leluhur oleh suatu perkumpulan marga, misalnya Toga Raja Panjaitan atau Toga Sinaga; namun ada juga gelar Toga yang diambil dari nama tempat tinggal beberapa marga dari satu keturunan misalnya Toga Sipoholon. Disamping gelar yang disebutkan diatas masih ada gelar orang batak yang disebutkan oleh para keturunan kepada leluhurnya yaitu TUAN misalnya Tuan Sihubil, Tuan Somanimbil, Tuan Dibangarna. Kalau kita amati pemberian gelar Raja, Pu, Toga dan, Tuan, bahwa pemberian gelar itu didasarkan pada kesepakatan para keturunan suatu marga atau beberapa marga tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Sebutan Toga yang diikuti dengan sebutan Raja misalnya Toga Raja Panjaitan atau sebutan Pu yang diikuti juga dengan sebutan Raja misalnya Pu Raja Siamporik adalah lazim dikalangan orang batak yang tinggal didaerah Toba Habinsaran sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

PU RAJA SIAMPORIK kawin dengan boru ni Raja i BORU HUTAPEA Pomparan PU RAJA LAGUBOTI.
Pu Raja Siamporik dan Ompu Boru Hutapea, bertempat tinggal di Pintubatu tepatnya dihuta Banjarganjang. Pu Raja Siamporik beranak-pinak dan mendiami areal sekitar Banjarganjang, letak sektor timur berbatasan dengan Parsambilan kampung marga Sitorus Pane, sektor Selatan berbatasan dengan Sibalingga kampung Napitupulu Sieang, sektor Barat berbatasan dengan Bustak Nabirong kampung marga Siagian dan Sektor Utara berbatasan dengan Lumban Tambak kampung marga Silaen
Dari huta Banjarganjang, anak-anak Pu Raja Siamporik menyebar mamungka huta sekitar banjarganjang dapat disebutkan disini Lumban Bulu, Lumban Joring, Lumban Holbung, Lumban Boltok, Lumban Hapit, Lumban Tonga-Tonga, Lumban Gambiri, Lumban na tihar, Lumban Hariara, Huta ginjang, Huta barat dan Huta duru yang kemudian dikenal Janji Mauli
Salah satu pomparan Pu Raja Siamporik yaitu Pu Raja Runggu ni Pohan menyebar dan mamungka huta ke Aek Nauli Sipahutar dan Huta Sibagal daerah Tarutung. Salah satu keturunan Pu Raja Siamporik yaitu Pangaraja anak dari Pu Raja Patugaja bertempat tinggal di kampung mertuanya Napitupulu, yang kemudian dikenal sebagai huta Gompar Pangaraja.
Ada juga keturunan Pu Raja Siamporik yang menyebar dan mamungka huta ke daerah Parsoburan yaitu Pu Raja Pande Jalang.
Keturunan PU RAJA SIAMPORIK sebagaimana orang batak yang terkenal suka merantau telah menyebar kemana-mana ke seantero Indonesia bahkan mungkin sampai ke luar negeri.
Semula PU RAJA SIAMPORIK bersama Ompu Boru Hutapea tinggal di Lumban Sibajur Sitorang bersama-sama dengan orang tuanya Pu Raja Dogor dan saudara-saudaranya. Didorong oleh semakin sempitnya lahan pertanian dan untuk menghindari konflik berkepanjangan dengan saudaranya sendiri, PU RAJA SIAMPORIK yang terkenal suka mengalah memilih untuk mencari lahan kosong baru ke arah Selatan menyusuri sungai Aek Bolon, sehingga tibalah dia disuatu tempat yang kemudian menjadi tempat tinggalnya yang kita kenal sebagai Banjarganjang. Sebaran Pomporannya kearah Selatan dan Barat Daya dari Banjarganjang oleh Pu Raja Siamporik disebut Pintubatu; Pintu yang berarti jalan masuk, terbuat dari Batu yang berarti Kokoh. 
Keturunan Pu Raja Siamporik memasuki dan memulai kehidupan baru. Meski Pu Raja Siamporik dipandang sebelah mata oleh saudaranya dan oleh orang-orang sekitarnya karena tidak ada apa-apanya bagaikan Amporik (jenis burung Pipit), Pu Raja Siamporik yakin bahwa dia akan memiliki keturunan yang banyak seperti halnya sekarang, dan keturunannya tidak akan merasakan kesukaran hidup meski jaman susah sekalipun. Pada saatnya nanti atau mungkin sedang berlangsung bahwa keturunan Pu Raja Siamporik telah menari bersuka ria diatas Batu yang kokoh mensyukuri keberhasilan hidup. Namun ada hal yang harus kita perhatikan dan kita teladani dari leluhur kita Pu Raja Siamporik yaitu bahwa kita harus RENDAH HATI, JANGAN SOMBONG dan HINDARI KONFLIK. 
Disamping itu marilah kita pelajari pola hidup Amporik (burung gereja). 
Burung gereja tidak suka sendiri selalu rame-rame.
Burung Gereja tidak pernah kuatir akan apa yang hendak dimakan karena makanan baginya senantiasa tersedia.
Disebut burung gereja karena burung itu suka tinggal di gereja dan karena tinggal di gereja sudah pasti burung itu sering mendengar nama Tuhan dan lagu2 pujian dikala ada kebaktian.
Dulu tidak begitu banyak yang suka dengar suaranya tapi akhir-akhir ini pencinta burung sangat menyukai suara burung gereja karena dinilai setara dengan burung Murai dan burung Nuri.
Di Jepang burung gereja sangat disukai dan bahkan ada tarian burung gereja yang disebut Suzuko Dance, yaitu tarian menyambut kedatangan tamu-tamu istimewa.
Burung Gereja ada dimana-mana, di Asia, Eropa, Amerika dan Afrika.
Semoga Pomparan Raja Siamporik Eksis dan Jaya dimana-mana.

St. MJP
15 Maret 2017
Dari berbagai sumber dan cerita Natua-tua.

Sabtu, 11 Maret 2017

Renungan Mazmur 121, Minggu Reminiscere 12 Maret 2017


Pada minggu Reminiscere hari ini, kita diingatkan bahwa TUHAN KITA ADALAH PENOLONG YANG SETIA (DEBATA DO PANGURUPI NA SATIA), REMINISCERE mengandung arti "INGATLAH SEGALA RAHMAT MU DAN KASIH-SETIA MU YA TUHAN” / “SAI  INGOT MA ALE JAHOWA ANGKA DENGGAN BASAM DOHOT ASI NI ROHAM” à (Mazmur/Psalmen 25:6)

Mazmur 25 adalah Doa mohon ampun dan perlindungan dari Daud.
Daud menyadari dosa besar yang dilakukannya yaitu mengambil Batsyeba istri Uria menjadi isterinya (2 Samuel 11:27) sehingga dia memohon ampun kepada Tuhan. Meskipun dia seorang raja, dia merasa keadaannya seperti seorang yang sebatang kara dan tertindas, hatinya sesak dan menghadapi kesulitan, sengsara dan mengalami kesukaran hidup sehingga dia mohon perlindungan kepada Tuhan. (Mazmur 25:16-18).
Tuhan yang dia kenal dan yang dia sembah adalah Tuhan yang menaburkan Berkat yang melimpah dan Setia. Tuhan yang menyayangi umat-Nya melebihi kasih sayang ibu terhadap anak kandungnya (Yesaya 49:15)

Khotbah minggu ini diambil dari Mazmur 121:1-8 Perikop "Tuhan Penjaga Israel"
1) Nyanyian ziarah. 
Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung;  dari manakah akan datang pertolonganku?
(2) Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.
(3) Ia takkan membiarkan kakimu goyah,  Penjagamu tidak akan terlelap.
(4) Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.
(5) Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.
(6) Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang,  atau bulan pada waktu malam.
(7) TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.
(8) TUHAN akan menjaga keluar masukmu,  dari sekarang sampai selama-lamanya.

Struktur :
Ayat 1-2 : Penegasan bahwa pertolongan hanya dari Tuhan.
Ayat 3-4 : Pujian kepada Tuhan yg tidak pernah tidur.
Ayat 5-6 : Pujian kepada Tuhan yg selalu menjaga umat-Nya.
Ayat 7-8 : Penegasan bahwa Tuhan akan melindungi umat-Nya 
                 selama perjalanan mereka.

Mazmur 121 ini adalah bagian dari 15 Mazmur Nyanyian Ziarah dalam perjalanan Ibadah bangsa Israel menuju Bait Allah di Yerusalem. (Kitab mazmur 120-134 disebut sebagai Mazmur nyanyian ziarah).
Ziarah adalah kata serapan bahasa arab yang berasal dari kata kerja "berkunjung", namun dalam pengertian bahasa indonesia "ziarah" memiliki bobot makna sebagai: kunjungan yang dianggap keramat dan mulia.
Menurut bahasa ibrani “khag” = "ziarah" yang artinya "naik". (Bandingkan dengan umat muslim ziarah ke Mekah [“Aliyah”] à Naik Haji).
Dikatakan "naik" karena letak geografis tempat keramat atau mulia biasanya di gunung atau di bukit, sebagaimana halnya dengan Yerusalem yang disebut bukit Sion (800 m diatas permukaan laut) . Pemuja berhala pun meyakini bahwa Dewa mereka berdiam di bukit atau di gunung (kekuatan duniawi).
Selain melakukan ziarah ke Bait Allah/Bukit Sion di Yerusalem, umat israel dalam melakukan sembahyang harus berkiblat (menghadap) ke bukit Sion mengikuti tradisi Daud dan Salomo (Mazmur 5:8; 138:2). Ziarah mempunyai akar didalam Perjanjian lama, pada waktu Abraham ziarah ke gunung Moria (Kejadian 22). 

Bangsa Israel setidak-tidaknya harus pergi ke Yerusalem à Tiga Kali dalam setahun untuk berhari raya (KHAG) yaitu : hari roti tidak beragi, hari raya tujuh minggu dan hari raya pondok daun (Ulangan 16:16).
-       Hari Raya PESAKH yaitu ziarah memperingati keluarnya  (eksodus) bangsa Israel dari perbudakan di Mesir yang di    laksanakan pada hari ke-14 bulan Nisan kalender Yahudi yang padanannya pada kalender masehi antara bulan Maret- April.
-       Hari raya SHAVUOT yaitu Ziarah memperingati hari diberikannya Hukum Taurat kepada Musa oleh Allah pada hari  ke-6 bulan Sivan (kalender Agama Yahudi) yang padanannya pada kalender masehi antara akhir bulan Mei s/d awal bulan Juni.
-       Hari Raya SUKHOT atau TABERNAKEL yang disebut juga sebagai hari raya pondok daun yaitu ziarah pengucapan syukur atas hasil panen yang dilaksanakan pada tanggal 14-15 antara bulan september-oktober.

Catatan rentang ayat
Keyakinan di dalam Allah (121:1-8) Mazmur ini mengajar kita,
I. Untuk menyandarkan diri kepada Allah sebagai Allah yang berkuasa dan mahamencukupi bagi kita. Daud melakukan hal ini dan menerima manfaatnya.
1.     Janganlah kita mengandalkan makhluk ciptaan, manusia, cara, sarana, dan perkara-perkara yang kurang penting, atau hal-hal kedagingan: “Apakah aku akan melayangkan mataku ke bukit-bukit?” – demikianlah yang dibaca beberapa orang. “Apakah pertolonganku datang dari sana? Apakah aku akan mengandalkan diri kepada kuasa di bumi, kekuatan bukit-bukit, kepada raja-raja dan orang-orang besar, yang seperti bukit-bukit, memenuhi bumi dan mengangkat kepala ke langit? Tidak. Sesungguhnya, bukit-bukit pengorbanan adalah tipu daya (Yer. 3:23). Aku tidak pernah berharap bahwa pertolonganku datang dari semua itu. Keyakinanku hanyalah di dalam Allah semata.” Kita harus melayangkan mata jauh di atas bukit-bukit (begitulah yang dibaca beberapa orang). Kita harus memandang melampaui segala sarana dan mengarahkan mata kepada Allah, yang menciptakan semua sarana itu bagi kita.
2.     Kita harus melihat bahwa semua pertolongan bagi kita tersedia di dalam Allah, di dalam kuasa dan kebaikan-Nya, di dalam pemeliharaan dan anugerah-Nya. Karena itu dari Dialah kita harus mengharapkan pertolongan itu datang: “Pertolonganku ialah dari TUHAN. Pertolongan yang kuharapkan itulah yang dikirimkan-Nya, dan dari Dia pulalah aku mengharapkannya, dengan cara dan dalam waktu-Nya sendiri. Jika Ia tidak menolong, tidak ada yang bisa menolongku. Jika Ia melakukannya, tidak ada makhluk yang dapat menghalangi atau mencegahnya.”
3.     Kita harus mencari pertolongan dari Allah melalui iman atas janji-janji-Nya dan dengan rasa hormat seperti seharusnya terhadap semua ketetapan-Nya: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung” (mungkin yang dimaksudkan Daud adalah perbukitan tempat Bait Suci dibangun, Gunung Moria, atau bukit Sion yang suci, tempat tabut perjanjian, ruang belakang Bait Suci, dan mezbah berada). “Aku akan mengamati hadirat Allah di tengah jemaat-Nya, bersama umat-Nya (hadirat-Nya seperti yang dijanjikan-Nya) dan bukan hanya kepada hadirat-Nya secara umum.” Ketika berada di kejauhan, ia memandang ke arah tempat yang mahakudus (28:2; 42:7). Dari sanalah datang pertolonganku, dari firman dan doa, dari tempat rahasia Kemah Suci-Nya. Pertolonganku ialah dari TUHAN (demikianlah yang dikatakan dalam ay. 2), dari hadapan TUHAN, atau dari pandangan dan hadapan TUHAN. “Hal ini (kata Dr. Hammond) dapat mengacu kepada Kristus yang menjelma, yang dengan kemanusiaan dan keilahian-Nya yang tak terpisahkan, Allah selalu bersama dengan Dia. Melalui Dia, bersama kita dan bagi kita, Ia duduk di sebelah kanan Allah dan senantiasa menaikkan syafaat.” Kristus disebut juga malaikat hadirat-Nya, yang menyelamatkan umat-Nya (Yes. 63:9).
4.     Kita harus meningkatkan keyakinan kita pada Allah dengan kenyataan bahwa Ia menjadikan langit dan bumi, dan Dia yang mampu melakukan ini mampu juga melakukan apa pun. Ia menciptakan dunia dari ketiadaan. Ia melakukannya sendiri dengan mengucapkan satu perkataan, dalam waktu yang singkat, dan semuanya itu baik, sangat sempurna dan indah. Oleh sebab itu, sebesar apa pun kesukaran dan kesusahan kita, Dia memiliki kuasa yang cukup untuk menolong dan melepaskan kita. Dia yang menjadikan langit dan bumi itu adalah Tuhan yang berkuasa atas bala tentara langit dan bumi. Ia dapat menggunakan mereka sesuai kehendak-Nya untuk menolong umat-Nya, dan menahan mereka sesuai kehendak-Nya supaya tidak menyakiti umat-Nya.
II. Untuk menghibur diri di dalam Allah ketika kesukaran dan bahaya teramat besar. Di sini dijanjikan bahwa jika kita mempercayakan diri kepada Allah dan setia dalam kewajiban kita, kita akan aman dalam perlindungan-Nya, sehingga tidak ada celaka berat ataupun sedang dan kemalangan yang akan menimpa kita, selain apa yang dipandang Allah baik untuk kita dan bermanfaat bagi kita.
1.     Allah sendiri telah memutuskan untuk menjadi pelindung kita: TUHANlah Penjagamu (ay. 5). Tugas apa pun yang diberikan-Nya kepada para malaikat-Nya untuk memelihara umat-Nya, tidak dibebaskan-Nya dari diri sendiri, sehingga apakah orang yang dikasihi-Nya mempunyai seorang malaikat sebagai penjaganya atau tidak, kita boleh yakin bahwa ia memiliki Allah sendiri sebagai penjaganya. Hikmat yang tidak terhinggalah yang merencanakan, dan kuasa tidak terhinggalah yang mengerjakan keselamatan orang-orang yang telah menempatkan diri di bawah perlindungan Allah. Orang-orang yang memiliki Tuhan sebagai Penjaganya akan dipenuhi keperluan mereka. Jika oleh sebab kesusahan, mereka seperti dijadikan tawanan-Nya sekalipun, Dia masih tetap menjadi Penjaga mereka.
2.     Sang Pelindung seluruh jemaat Tuhan yang sama juga terlibat dalam pemeliharaan setiap orang percaya, dengan hikmat, kuasa, dan janji-janji yang sama. Penjaga Israel (ay. 4) adalah Penjagamu (ay. 5). Gembala kawanan domba adalah juga gembala bagi setiap domba, dan ia akan menjaga supaya tidak seekor pun binasa, bahkan yang kecil sekalipun.
3.     Dia adalah Penjaga yang waspada dan tidak pernah tidur: “Penjaga Israel, yang menjagamu, O Israel, tidak terlelap dan tidak tertidur. Dia tidak sekalipun dan tidak akan pernah tertidur, sebab Dia tidak pernah letih. Dia bukan saja tidak pernah tidur, tetapi juga tidak pernah mengantuk. Dia tidak memiliki kecenderungan sedikit pun untuk tidur.”
4.     Dia bukan saja melindungi mereka yang dijaga-Nya, tetapi juga menyegarkan mereka: Dia adalah naungan mereka. Pembandingan ini mengandung sikap merendah yang sangat besar. Keberadaan kekal yang tidak terbatas itu demikian adanya agar Ia dapat menyampaikan penghiburan yang dapat dirasakan kepada umat-Nya, termasuk janji-janji untuk menjadi umbra – bayang-bayang mereka, supaya Ia berada tetap dekat dengan mereka, sama seperti bayang-bayang selalu dekat dengan tubuh. Juga, untuk menaungi mereka dari panas yang terik, bagaikan naungan batu yang besar, di tanah yang tandus (Yes. 32:2). Di bawah naungan inilah mereka bisa duduk dengan nyaman dan aman (Kid. 2:3).
5.     Dia selalu berada dekat dengan umat-Nya supaya bisa melindungi serta menyegarkan mereka, dan tidak pernah menjauh dari mereka. Dia adalah Penjaga dan naungan di sebelah tangan kanan mereka, sehingga dengan demikian Ia tidak pernah terlampau jauh dan sulit ditemukan. Tangan kanan adalah tangan untuk bekerja. Mereka cukup berpaling ke kanan sesuai kewajiban, dan mereka akan mendapati Allah siap menolong dan memberi mereka keberhasilan ( 16:8).
6.     Dia bukan saja berdiri di sebelah kanan mereka, tetapi langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya juga (1 Sam. 2:9). Dia selalu mengamati gerak gerik mereka: Ia takkan membiarkan kakimu goyah. Allah akan menjaga supaya umat-Nya tidak akan dicobai melebihi kemampuan mereka, menjaga supaya mereka tidak jatuh dalam dosa, meskipun mereka nyaris melakukannya ( 73:2, 23). Mereka tidak akan jatuh dalam masalah, meskipun banyak yang berusaha keras menjatuhkan mereka melalui penipuan atau menggulingkan mereka dengan paksa. Dia akan menjaga supaya mereka tidak takut, sama seperti saat kita terpeleset atau tersandung dan nyaris jatuh.
7.     Dia akan melindungi mereka dari semua pengaruh jahat benda-benda langit (ay. 6): Matahari tidak menyakiti engkau dengan panasnya yang terik pada waktu siang, atau bulan dengan hawa dingin dan kelembapannya pada waktu malam. Matahari dan bulan merupakan berkat yang besar bagi umat manusia, namun (betapa menyedihkan perubahan yang disebabkan oleh dosa terhadap penciptaan) bahkan matahari dan bulan pun, yang meskipun disembah oleh sebagian besar umat manusia, sering kali merupakan sarana yang melukai dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia. Melalui hal-hal ini Allah sering kali memukul kita. Namun, perkenan-Nya akan menengahi sehingga hal ini tidak akan merugikan umat-Nya. Dia akan menjaga mereka siang malam (Yes. 27:3), seperti Ia menjaga umat Israel di padang gurun dengan tiang awan pada siang hari, yang menaungi mereka dari panasnya matahari, dan pada waktu malam dalam tiang api, yang boleh jadi menebarkan kehangatan ke atas seluruh perkemahan, supaya mereka tidak akan terganggu oleh dingin dan lembabnya malam yang pernah dikeluhkan Yakub, bapa leluhur mereka (Kej. 31:40), bahwa ia dimakan panas pada waktu siang dan kedinginan waktu malam. Hal ini juga bisa diartikan secara kiasan: “Engkau tidak akan terluka, baik oleh serangan terbuka musuh-musuhmu yang tampak jelas seperti berkas sinar matahari yang terik, ataupun oleh upaya curang mereka yang tersembunyi yang serupa dengan sindiran tidak kentara bagaikan dinginnya malam.”
8.     Perlindungan-Nya akan membuat mereka aman dalam segala hal: “TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan, yakni celaka akibat dosa dan kesukaran. Ia akan mencegah kejahatan yang engkau takuti dan akan menguduskan, menyingkirkan, atau meringankan celaka yang kau rasakan. Ia akan menjaga engkau dari melakukan kejahatan (2 Kor. 13:7), dan menjauhkanmu sedemikian rupa dari celaka yang membuatmu menderita, hingga kemalangan apa pun yang terjadi atasmu tidak akan terdapat celaka di dalamnya. Bahkan celaka yang mematikan pun tidak akan terasa sakit.”
9.     Kehidupan rohanilah yang terutama hendak dilindungi Allah: Ia akan menjaga nyawamu atau jiwamu. Semua jiwa adalah milik-Nya, sedangkan jiwa adalah manusia itu sendiri. Oleh sebab itu Ia akan menjaganya dengan perhatian khusus, supaya mereka tidak dikotori oleh dosa dan terganggu oleh kemalangan. Ia akan menjaga jiwa kita supaya kita tetap memilikinya. Ia akan menjaga supaya mereka tidak binasa selamanya.
10. Ia akan menjaga kita di dalam semua jalan kita: “Ia akan menjaga keluar masukmu. Engkau akan berada di bawah perlindungan-Nya dalam semua perjalananmu, baik keluar maupun kembali ke rumah, seperti Ia telah memelihara orang Israel di padang belantara, baik ketika mereka berpindah tempat atau beristirahat. Ia akan membuatmu sejahtera dalam semua urusanmu, baik di dalam maupun di luar rumah, di awal maupun akhirnya. Ia akan memeliharamu baik dalam kehidupan maupun dalam kematian, perjalanan keluarmu sementara engkau hidup dan perjalanan masukmu saat engkau mati, pergi keluar di waktu pagi sepanjang umur muda hidupmu untuk bekerja dan pulang ke rumah untuk beristirahat ketika usia senja memanggilmu masuk” ( 104:23).
11. Ia akan terus menjaga kita dari sekarang sampai selama-lamanya. Ini merupakan perlindungan seumur hidup, yang tidak pernah berhenti. “Ia akan memimpinmu sampai kepada mati, dan akan menyembunyikanmu di dalam kubur dan di sorga. Ia akan menjaga engkau sehingga masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga.” Allah akan senantiasa melindungi jemaat dan orang-orang yang dikasihi-Nya, bahkan sampai kepada akhir zaman. Roh, yang adalah penjaga dan penghibur mereka, akan menyertai mereka sampai selamanya.

Bagaimana kita memahami khotbah ini dari sudut pandang iman kristiani ?

Bahwa Allah yang dikenal dan disembah Daud, Salomo dan umat Israel jaman dulu adalah Allah Trinitas yang kita kenal, kita Sembah dan kita Puji sebagai Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus (Debata Sitolu Sada, i ma Debata Ama, Anak dohot Tondi Porbadia).
Bangsa Israel secara jasmani yang dalam PL disebut sebagai Umat Allah (Bangso ni Debata), dalam PB disebut sebagai Israel secara rohani  yaitu umat yang lahir kembali yang dilahirkan dari Air dan Roh (Yohanes 3:6).

Dilahirkan dari Air (babtisan kudus yang dilakukan oleh Pendeta dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus) adalah sebagai tanda/materai telah lahir kembali. 
Babtisan Air melambangkan pengampunan dosa dan melambangkan kematian bersama Yesus. Seseorang yang telah dibabtis dalam nama Yesus, dia telah dibabtis dalam kematian-Nya, dikuburkan bersama -Nya dan dibangkitkan bersama-Nya oleh kemuliaan Bapa sehingga memperoleh hidup yang baru (Roma 6:3-4). 

Dilahirkan dari Roh yaitu babtisan oleh Allah sendiri yang dilambangkan dengan Api bagi seseorang yang benar-benar telah bertobat dan melaksanakan kehendak Allah yaitu:
a.     Seseorang yang dengan segenap hati dan jiwanya mengaku percaya bahwa Yesus adalah Tuhan (Yoh 13:13)
b.    Bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup (Mat 16:16); bahwa hanya Yesus satu-satunya yang mampu dan berkuasa menyelamatkan umat manusia (Kisah Para Rasul 4:12, Yoh 14:6).
c.     Seseorang yang dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budinya mengasihi Allah (Markus 12:30).
d.    Mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri (Mat 22:39).
e.     Soli Deo Gloria yaitu Beribadah, memuji dan memuliakan nama Tuhan (Roma 2:36, Mazmur 115, Titus 2:13).

Kalau umat Israel tiga kali dalam setahun berziarah dan sembahyang/berdoa setiap hari menghadap (kiblat) ke bukit Sion di Yerusalem, maka kita umat/jemaat yang percaya kepada Kristus tidak perlu berziarah ke Yerusalem dan tidak perlu berdoa menghadap kearah tertentu karena Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dan Tuhan Yesus Kristus sendirilah kiblat sejati (Yoh 4:23-24).  Mata tertuju kepada Yesus (Ibrani 12:2). 
Ziarah ke Bait Allah di Yerusalem tergolong sulit karena jalan mendaki (800 meter diatas permukaan laut) dan berbatu-batu serta harus membawa kurban persembahan. Ini merupakan gambaran perjalanan hidup manusia bahwa mengikut Yesus tidaklah mudah karena harus "menyangkal diri dan memikul salib" (Matius 16:24, Markus 8:34, Lukas 9:23) akan tetapi jangan bimbang dan ragu karena Tuhan Yesus Kristus adalah ALLAH PENCIPTA (CREATOR DEI), ALLAH PEMELIHARA (CONSERVATIO DEI) dan ALLAH PENJAGA (PRESERVATIO DEI) umat manusia.


St. MJP
12 Maret 2017,
Disadur dari berbagai sumber

Minggu, 05 Maret 2017

Tarombo Pu Raja Ni Apul




Keterangan:

Sebutan gelar "Pu" / "Ompu" dan/atau sebutan gelar "Raja" (panutan / ihutan, bukan kekuasaan) dianugerahkan kepada seseorang yang telah memiliki 4 garis keturunan ke bawah yaitu maranak-marboru; marpahompu sian anak-marpahompu sian boru; marnini-marnono; dohot marondok-ondok (Cucunya telah mempunyai cucu)

Gelar "Pu" / "Ompusetara dengan level Bona Ni Ari dari horong hula-hula.

ST. MJP
5/13/2017