Pu Raja Si Amporik adalah putera ke-3 dari 4 bersaudara (Pu Raja Pangatur, Pu Raja Soulangon, Pu
Raja Siamporik dan Pu Raja Pambarobo) putera dari Pu Raja Dogor, cucu dari Pu
Raja Situngo, cicit dari Toga Raja
Panjaitan.
Sebelum kita lebih jauh dengan PU RAJA SIAMPORIk, terlebih
dahulu kita singgung sedikit mengenai gelar atau panggilan kehormatan bagi
leluhur orang batak. Sebutan Na matunggane diberikan kepada
sesorang laki-laki orang batak yang telah berkeluarga. Gelar Raja melekat dan
diberikan kepada natua-tua orang batak yang telah menerima/memberi Ulos Passamot. Gelar Ompu melekat pada natua-tua yang telah
memiliki cucu. Gelar PU melekat pada
nama panggilan yang diberikan kepada leluhur yang telah memiliki keturunan lengkap
(Maranak-marboru, marpahompu sian anak
marpahompu sian boru, marnini-marnono, marondok-ondok).
Gelar TOGA
diberikan kepada leluhur oleh suatu perkumpulan marga, misalnya Toga Raja Panjaitan atau Toga Sinaga; namun ada juga gelar Toga
yang diambil dari nama tempat tinggal beberapa marga dari satu keturunan
misalnya Toga Sipoholon. Disamping
gelar yang disebutkan diatas masih ada gelar orang batak yang disebutkan oleh
para keturunan kepada leluhurnya yaitu TUAN
misalnya Tuan Sihubil, Tuan Somanimbil,
Tuan Dibangarna. Kalau kita amati pemberian gelar Raja, Pu, Toga dan, Tuan, bahwa pemberian gelar itu didasarkan
pada kesepakatan para keturunan suatu marga atau beberapa marga tertentu
sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Sebutan Toga yang diikuti dengan sebutan Raja misalnya Toga Raja Panjaitan atau sebutan Pu yang
diikuti juga dengan sebutan Raja misalnya Pu Raja Siamporik adalah lazim
dikalangan orang batak yang tinggal didaerah Toba Habinsaran sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
PU RAJA SIAMPORIK kawin dengan boru ni Raja i BORU HUTAPEA Pomparan PU
RAJA LAGUBOTI.
Pu Raja Siamporik dan Ompu Boru Hutapea, bertempat tinggal di Pintubatu tepatnya dihuta Banjarganjang. Pu Raja Siamporik
beranak-pinak dan mendiami areal sekitar Banjarganjang, letak sektor timur
berbatasan dengan Parsambilan kampung
marga Sitorus Pane, sektor Selatan
berbatasan dengan Sibalingga kampung Napitupulu Sieang, sektor Barat
berbatasan dengan Bustak Nabirong
kampung marga Siagian dan Sektor
Utara berbatasan dengan Lumban Tambak
kampung marga Silaen.
Dari huta Banjarganjang, anak-anak Pu Raja Siamporik menyebar
mamungka huta sekitar banjarganjang dapat disebutkan disini Lumban Bulu, Lumban Joring, Lumban Holbung,
Lumban Boltok, Lumban Hapit, Lumban Tonga-Tonga, Lumban Gambiri, Lumban na
tihar, Lumban Hariara, Huta ginjang, Huta barat dan Huta duru yang kemudian
dikenal Janji Mauli.
Salah satu pomparan Pu Raja Siamporik yaitu Pu Raja Runggu ni Pohan menyebar dan mamungka huta ke Aek Nauli Sipahutar dan Huta Sibagal daerah Tarutung. Salah satu
keturunan Pu Raja Siamporik yaitu Pangaraja
anak dari Pu Raja Patugaja bertempat
tinggal di kampung mertuanya Napitupulu,
yang kemudian dikenal sebagai huta Gompar
Pangaraja.
Ada juga keturunan Pu Raja Siamporik yang menyebar dan mamungka
huta ke daerah Parsoburan yaitu Pu Raja Pande Jalang.
Keturunan PU RAJA
SIAMPORIK sebagaimana orang batak yang terkenal suka merantau telah
menyebar kemana-mana ke seantero Indonesia bahkan mungkin sampai ke luar
negeri.
Semula PU RAJA SIAMPORIK bersama Ompu Boru Hutapea tinggal di Lumban Sibajur Sitorang bersama-sama
dengan orang tuanya Pu Raja Dogor dan saudara-saudaranya. Didorong oleh semakin
sempitnya lahan pertanian dan untuk menghindari konflik berkepanjangan dengan
saudaranya sendiri, PU RAJA SIAMPORIK yang terkenal suka mengalah memilih untuk
mencari lahan kosong baru ke arah Selatan menyusuri sungai Aek Bolon, sehingga
tibalah dia disuatu tempat yang kemudian menjadi tempat tinggalnya yang kita
kenal sebagai Banjarganjang. Sebaran Pomporannya kearah Selatan dan Barat Daya
dari Banjarganjang oleh Pu Raja Siamporik disebut Pintubatu; Pintu yang berarti jalan masuk, terbuat
dari Batu yang berarti Kokoh.
Keturunan Pu Raja Siamporik memasuki dan memulai kehidupan baru.
Meski Pu Raja Siamporik dipandang sebelah mata oleh saudaranya dan oleh
orang-orang sekitarnya karena tidak ada apa-apanya bagaikan Amporik (jenis burung Pipit), Pu Raja
Siamporik yakin bahwa dia akan memiliki keturunan yang banyak seperti halnya
sekarang, dan keturunannya tidak akan merasakan kesukaran hidup meski jaman
susah sekalipun. Pada saatnya nanti atau mungkin sedang berlangsung bahwa
keturunan Pu Raja Siamporik telah menari bersuka ria diatas Batu yang kokoh
mensyukuri keberhasilan hidup. Namun ada hal yang harus kita perhatikan dan
kita teladani dari leluhur kita Pu Raja Siamporik yaitu bahwa kita harus RENDAH HATI, JANGAN SOMBONG dan HINDARI
KONFLIK.
Disamping itu marilah kita pelajari pola hidup Amporik (burung
gereja).
Burung gereja tidak suka sendiri selalu rame-rame.
Burung Gereja tidak pernah kuatir akan apa yang hendak dimakan
karena makanan baginya senantiasa tersedia.
Disebut burung gereja karena burung itu suka tinggal di gereja
dan karena tinggal di gereja sudah pasti burung itu sering mendengar nama Tuhan
dan lagu2 pujian dikala ada kebaktian.
Dulu tidak begitu banyak yang suka dengar suaranya tapi
akhir-akhir ini pencinta burung sangat menyukai suara burung gereja karena
dinilai setara dengan burung Murai dan burung Nuri.
Di Jepang burung gereja sangat disukai dan bahkan ada tarian
burung gereja yang disebut Suzuko Dance,
yaitu tarian menyambut kedatangan tamu-tamu istimewa.
Burung Gereja ada dimana-mana, di Asia, Eropa, Amerika dan Afrika.
Semoga Pomparan Raja Siamporik Eksis dan Jaya dimana-mana.
Burung Gereja ada dimana-mana, di Asia, Eropa, Amerika dan Afrika.
Semoga Pomparan Raja Siamporik Eksis dan Jaya dimana-mana.
St. MJP
15 Maret 2017
Dari berbagai sumber dan cerita Natua-tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar