Rabu, 15 Maret 2017

Mengenal Lebih Jauh Pu Raja Siamporik


Pu Raja Si Amporik adalah putera ke-3 dari 4 bersaudara (Pu Raja Pangatur, Pu Raja Soulangon, Pu Raja Siamporik dan Pu Raja Pambarobo) putera dari Pu Raja Dogor, cucu dari Pu Raja Situngo, cicit dari Toga Raja Panjaitan.
Sebelum kita lebih jauh dengan PU RAJA SIAMPORIk, terlebih dahulu kita singgung sedikit mengenai gelar atau panggilan kehormatan bagi leluhur orang batak. Sebutan Na matunggane diberikan kepada sesorang laki-laki orang batak yang telah berkeluarga. Gelar Raja melekat dan diberikan kepada natua-tua orang batak yang telah menerima/memberi Ulos Passamot. Gelar Ompu melekat pada natua-tua yang telah memiliki cucu. Gelar PU melekat pada nama panggilan yang diberikan kepada leluhur yang telah memiliki keturunan lengkap (Maranak-marboru, marpahompu sian anak marpahompu sian boru, marnini-marnono, marondok-ondok). 
Gelar TOGA  diberikan kepada leluhur oleh suatu perkumpulan marga, misalnya Toga Raja Panjaitan atau Toga Sinaga; namun ada juga gelar Toga yang diambil dari nama tempat tinggal beberapa marga dari satu keturunan misalnya Toga Sipoholon. Disamping gelar yang disebutkan diatas masih ada gelar orang batak yang disebutkan oleh para keturunan kepada leluhurnya yaitu TUAN misalnya Tuan Sihubil, Tuan Somanimbil, Tuan Dibangarna. Kalau kita amati pemberian gelar Raja, Pu, Toga dan, Tuan, bahwa pemberian gelar itu didasarkan pada kesepakatan para keturunan suatu marga atau beberapa marga tertentu sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Sebutan Toga yang diikuti dengan sebutan Raja misalnya Toga Raja Panjaitan atau sebutan Pu yang diikuti juga dengan sebutan Raja misalnya Pu Raja Siamporik adalah lazim dikalangan orang batak yang tinggal didaerah Toba Habinsaran sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

PU RAJA SIAMPORIK kawin dengan boru ni Raja i BORU HUTAPEA Pomparan PU RAJA LAGUBOTI.
Pu Raja Siamporik dan Ompu Boru Hutapea, bertempat tinggal di Pintubatu tepatnya dihuta Banjarganjang. Pu Raja Siamporik beranak-pinak dan mendiami areal sekitar Banjarganjang, letak sektor timur berbatasan dengan Parsambilan kampung marga Sitorus Pane, sektor Selatan berbatasan dengan Sibalingga kampung Napitupulu Sieang, sektor Barat berbatasan dengan Bustak Nabirong kampung marga Siagian dan Sektor Utara berbatasan dengan Lumban Tambak kampung marga Silaen
Dari huta Banjarganjang, anak-anak Pu Raja Siamporik menyebar mamungka huta sekitar banjarganjang dapat disebutkan disini Lumban Bulu, Lumban Joring, Lumban Holbung, Lumban Boltok, Lumban Hapit, Lumban Tonga-Tonga, Lumban Gambiri, Lumban na tihar, Lumban Hariara, Huta ginjang, Huta barat dan Huta duru yang kemudian dikenal Janji Mauli
Salah satu pomparan Pu Raja Siamporik yaitu Pu Raja Runggu ni Pohan menyebar dan mamungka huta ke Aek Nauli Sipahutar dan Huta Sibagal daerah Tarutung. Salah satu keturunan Pu Raja Siamporik yaitu Pangaraja anak dari Pu Raja Patugaja bertempat tinggal di kampung mertuanya Napitupulu, yang kemudian dikenal sebagai huta Gompar Pangaraja.
Ada juga keturunan Pu Raja Siamporik yang menyebar dan mamungka huta ke daerah Parsoburan yaitu Pu Raja Pande Jalang.
Keturunan PU RAJA SIAMPORIK sebagaimana orang batak yang terkenal suka merantau telah menyebar kemana-mana ke seantero Indonesia bahkan mungkin sampai ke luar negeri.
Semula PU RAJA SIAMPORIK bersama Ompu Boru Hutapea tinggal di Lumban Sibajur Sitorang bersama-sama dengan orang tuanya Pu Raja Dogor dan saudara-saudaranya. Didorong oleh semakin sempitnya lahan pertanian dan untuk menghindari konflik berkepanjangan dengan saudaranya sendiri, PU RAJA SIAMPORIK yang terkenal suka mengalah memilih untuk mencari lahan kosong baru ke arah Selatan menyusuri sungai Aek Bolon, sehingga tibalah dia disuatu tempat yang kemudian menjadi tempat tinggalnya yang kita kenal sebagai Banjarganjang. Sebaran Pomporannya kearah Selatan dan Barat Daya dari Banjarganjang oleh Pu Raja Siamporik disebut Pintubatu; Pintu yang berarti jalan masuk, terbuat dari Batu yang berarti Kokoh. 
Keturunan Pu Raja Siamporik memasuki dan memulai kehidupan baru. Meski Pu Raja Siamporik dipandang sebelah mata oleh saudaranya dan oleh orang-orang sekitarnya karena tidak ada apa-apanya bagaikan Amporik (jenis burung Pipit), Pu Raja Siamporik yakin bahwa dia akan memiliki keturunan yang banyak seperti halnya sekarang, dan keturunannya tidak akan merasakan kesukaran hidup meski jaman susah sekalipun. Pada saatnya nanti atau mungkin sedang berlangsung bahwa keturunan Pu Raja Siamporik telah menari bersuka ria diatas Batu yang kokoh mensyukuri keberhasilan hidup. Namun ada hal yang harus kita perhatikan dan kita teladani dari leluhur kita Pu Raja Siamporik yaitu bahwa kita harus RENDAH HATI, JANGAN SOMBONG dan HINDARI KONFLIK. 
Disamping itu marilah kita pelajari pola hidup Amporik (burung gereja). 
Burung gereja tidak suka sendiri selalu rame-rame.
Burung Gereja tidak pernah kuatir akan apa yang hendak dimakan karena makanan baginya senantiasa tersedia.
Disebut burung gereja karena burung itu suka tinggal di gereja dan karena tinggal di gereja sudah pasti burung itu sering mendengar nama Tuhan dan lagu2 pujian dikala ada kebaktian.
Dulu tidak begitu banyak yang suka dengar suaranya tapi akhir-akhir ini pencinta burung sangat menyukai suara burung gereja karena dinilai setara dengan burung Murai dan burung Nuri.
Di Jepang burung gereja sangat disukai dan bahkan ada tarian burung gereja yang disebut Suzuko Dance, yaitu tarian menyambut kedatangan tamu-tamu istimewa.
Burung Gereja ada dimana-mana, di Asia, Eropa, Amerika dan Afrika.
Semoga Pomparan Raja Siamporik Eksis dan Jaya dimana-mana.

St. MJP
15 Maret 2017
Dari berbagai sumber dan cerita Natua-tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar